Cerita Rakyat Damarwulan Raja Penerus Takhta Majapahit

Keraton Majapahit tengah dilanda keprihatinan. Ancaman bahaya yang tidak diinginkan Prabu Kenya Kencana Wungu atau Dewi Suhita terjadi. Raja wanita penerus takhta Prabu Hayam Wuruk itu baru saja menolak dengan halus lamaran Raja Blambangan, Bhre Wirabhumi, atau lebih dikenal dengan sebutan Menak Jingga.

Menak Jingga adalah seorang raja sakti mandraguna penuh pesona, tapi memiliki sifat tamak dan angkara murka. Dewi Suhita tidak suka dengan watak serta perilaku Menak Jingga, sekali pun beliau memiliki pusaka ampuh gada sakti wesi kuning yang selalu meminta korban di pihak lawan.

Dewi Suhita memang tidak sudi dijadikan permaisuri Menak Jingga karena beberapa alasan. Pertama, wilayah kekuasaan pemerintahan kerajaan Majapahit lebih besar dibandingkan kekuasaan pemerintahan Blambangan. Kedua, Menak Jingga telah memiliki dua orang selir bernama Wahita dan Puyengan. Sudah sejak lama mereka mengharapkan salah satu dari mereka dijadikan permaisuri Blambangan.

Hal lain yang masih mengganjal dalam hati Dewi Suhita adalah ia baru saja ditinggal pergi suaminya, Hyang Parameswara. Hyang Parameswara yang baru saja berpindah agama dari Hindu Syiwa ke Islam seakan tak memiliki tempat di Majapahit, sekalipun ia adalah raja pendamping resmi Dewi Suhita. Sebenarnya bukan masalah perpindahan agama ini yang menyebabkan Hyang Parameswara meninggalkan Majapahit. Akan tetapi, karena banyak raja muda dan putra mahkota lain ingin berkuasa merebut takhta Majapahit.

Peluang Menak Jingga untuk menguasai Majapahit semakin besar dengan tidak pulangnya Hyang Parameswara kembali ke tanah leluhur.Menak Jingga tetap bertekad menikah dan ingin membalas dendam pada Majapahit atas kegagalannya menjadi putra mahkota dan raja di Majapahit. Menak Jingga memang masih terhitung paman tiri Dewi Suhita. Ia merupakan anak dari selir Prabu Hayam Wuruk.

Menak Jingga pun melontarkan ancaman, “Majapahit akan kuserang dan Suhita tetap akan kupkasa menjadi istriku!”. Bagai makan buah simalakama, Dewi suhita disuruh memilih. Menuruti kemauan Menak Jingga atau Majapahit hancur total.

Dalam suasana tegang itu, akal sehat dan sifat cerdik Dewi Suhita masih mampu dijalankan. Ia mengatakan pada Menak Jingga bahwa ia menerima lamarannya dengan satu syarat yaitu penundaan pinangan sampai esok hari. Menak Jingga dengan gembira dan bangga menjemput pasukannya untuk pulang ke Blambangan tanpa curiga.

Sepeninggal Menak Jingga, Dewi Suhita langsung memanggil beberapa pembantu setianya termasuk Ki Patih Logender yang termasuk penasihat kerajaan. Dewi Suhita segera mengadakan rapat kilat tentang bagaimana akan menghadapi Menak Jingga. Dewi Suhita melontarkan sebuah ide untuk segera mengadakan sayembara.

“Barang siapa bisa mengalahkan Menak Jingga dan mempersembahkan kepalanya untukku, siapa pun orangnya, akan kuterima menjadi suamiku. Semua padepokan yang ada di wilayah keraton harus tahu sayembara ini secepatnya sebab Menak Jingga akan datang esok pagi.”

“Daulat Tuanku, hamba segera mohon pamit,” kata Ki Patih Logender yang kemudian bangkit dan secepatnya menuju ke kudanya. Tanpa banyak cakap, ia segera melaksanakan titah junjungannya.

Ternyata berita tentang sayembara ini didengar oleh anak-anak Ki Patih Logender Layang Seta dan Layang Kumintir serta anak angkat Ki Patih yaitu Damarwulan. Layang Seta dan Layang Kumintir yang memang sejak dulu mengagumi kecantikan ratunya itu serta merta menyatakan diri untuk mengikuti sayembara. Berbeda dengan Damarwulan. Hatinya risau dan pikirannya kacau sebab selama mengabdi kepada Ki Patih, hatinya telah tertambat pada anak terakhir Ki Patih yaitu Dewi Anjasmara. Namun, kini cintanya tinggallah cinta karena membela negara adalah nomor satu.

“Pergilah kakang, jangan hiraukan adinda. Tugas negara adalah hal yang paling utama,” kata Dewi Anjasmara.

Dengan ucapan Dewi Anjasmara yang memberi dukungan moral serta tanpa rasa cemburu, akhirnya Damarwulan bertekad menghadapi Menak Jingga.

Berbeda dengan ksatria lain yang mengikuti “eliminasi” di gelanggang alun-alun. Damarwulan sadar akan kemampuan bela dirinya. Maka sesuai rencana, ia akan menyelinap ke keraton Blambangan kemudian mencuri Gada Sakti Menak Jingga. Sementara itu Layang Seta dan Layang Kumintir yang mengadu untung dikabarkan kalah dalam gelanggang.

Dengan menyamar sebagai abdi dalem, Damarwulan berhasil menyelinap. Ia terus mencari di mana Gada Sakti itu disimpan. Tak terduga ia berpapasan dengan kedua selir Menak Jingga.

“Pelayan, cepat bawa baki itu kemari!” panggil Wahita dengan paras memikat. Sementara itu Puyengan yang juga memiliki paras ayu sedang asyik berdandan menyambut pesta kecil yang diadakan malam itu oleh Menak Jingga. Damarwulan kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia pun melihat Gada Sakti itu tersimpan dalam sebuah lemari kaca besar dalam ruangan itu. Setelah Wahita dan Puyengan meninggalkan ruangan, Damarwulan berusaha untuk membuka lemari kaca tersebut. Namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan kembalinya Wahita dan Puyengan. Wahita dan Puyengan yang melihat Damarwulan ingin mencuri Gada Sakti itu malah membiarkannya.

Wahita dan Puyengan yang tengah kesal akan kabar bahwa Menak Jingga berhasil membujuk Dewi Suhita tiba-tiba langsung terpana dengan ketampanan dan kegagahan Damarwulan. Dengan suara manja dan gelak tawa mereka merayu Damarwulan. Sungguh suatu kesempatan emas. Di tengah cengkramaan mereka bertiga Damarwulan menanyakan dengan hati-hati apa kelemahan dari Menak Jingga. Tanpa pikir panjang kedua selir itu langsung memberi tahu Damarwulan. Ternyata kelemahan Menak Jingga ada pada pangkal paha kirinya. Berbekal gada sakti dan informasi dari kedua selir Menak Jingga, Damarwulan segera mencari Menak Jingga.

Menak Jingga yang tengah duduk di singgasananya dalam kondisi setengah mabuk dikejutkan dengan kehadiran Damarwulan yang membawa gada saktinya. Tanpa banyak basa-basi Damarwulan langsung menyerang Menak Jingga. Keadaan sepertinya sangat menguntungkan bagi Damarwulan karena Menak Jingga masih berdiri sempoyongan akibat mabuk. Seketika dengan ayunan keras Damarwulan memukul pangkal paha kiri Menak Jingga dan raja angkara murka itu pun tewas. Damarwulan segera memenggal kepala Menak Jingga untuk dipersembahkan pada Prabu Suhita. Sebagai bukti penguat lain, Damarwulan memindahkan mahkota raja Blambangan ke kepalanya dan kembali pulang ke Majapahit.

Di tengah perjalanan kembali ke Majapahit, Damarwulan dihadang Layang Seta dan Layang Kumintir. Mereka berdua merebut penggalan kepala Menak Jingga dari Damarwulan dengan mudahnya. Mereka pun mengikat Damarwulan pada sebuah pohon. Layang Seta dan Layang Kumintir pun segera berlari kecil-kecil menuju keraton untuk mempersembahkan kepala Menak Jingga ke hadapan Prabu Suhita. Dalam benak mereka terus terbayang wajah cantik nan agung Prabu Suhita yang akan menjadi istri mereka sesuai janji sayembara. Dimabuk nafsu, timbulah pikiran licik dalam benak Layang Seta dan Layang Kumintir untuk saling mencelakakan.

Dewi Anjasmara yang sejak tadi harap-harap cemas mengamati gelagat kedua kakaknya dengan cepat mengetahui apa yang menimpa kekasihnya. Dewi Anjasmara pun membebaskan ikatan Damarwulan. Mereka berdua pun langsung menuju keraton untuk menggagalkan niat licik kedua kakak Dewi Anjasmara.
Sayang, usaha Dewi Anjasmara dan Damarwulan untuk mencegah kelicikan kedua pemuda tersebut terlambat. Layang Seta dan Layang Kumintir sejak lama sudah tiba dan hadir di bangsal keraton. Walaupun mereka bingung dan tidak begitu percaya dengan apa yang disaksikan di bangsal keraton ini, Dewi Suhita tetap dengan segera memenuhi janjinya. Beliau segera memerintahkan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Di sisi lain Ki Patih Logender khawatir kedua putranya tak ada yang mau mengalah sehingga salah satu harus mati.

Di tengah susasana yang serba mengejutkan itu muncul Damarwulan dan Dewi Anjasmara. Dewi Suhita yang sudah cukup lelah mau tidak mau mendengarkan keterangan Damarwulan. Terlebih setelah Dewi Suhita melihat mahkota Blambangan di kepala Damarwulan dan Gada Sakti Wesi Kuning di tangannya.  Suasana pun menjadi keruh.

Dengan kebijaksanaan Dewi Suhita, akhirnya silang pendapat berhasil dihentikan. Beliau pun menyuruh untuk membangun gelanggang kembali. Mereka bertiga, Layang Seta, Layang Kumintir, dan Damarwulan akan beradu tanding. Pemenangnya akan menjadi suami Dewi Suhita sekaligus menjadi raja Majapahit.
Hari yang mendebarkan pun menjelang. Dewi Anjasmara ikhlas melepas Damarwulan dari kehidupan pribadinya jika ksatria yang dicintainya itu menang dalam pertarungan. Tidak sedikit pun hatinya tergores luka. Demi Prabu Kencana Wungu yang telah baik pada keluarganya, ia rela berkorban. Pertarungan Layang Seta dan Layang Kumintir melawan Damarwulan yang tampak tidak seimbang itu pun dimulai.

Tiba-tiba dari arah barat muncul sosok tinggi besar. Ia adalah Menak Sembuyu, adik Menak Jingga. Mereka pun kaget dengan kehadiran Menak Sembuyu. Apa yang akan dilakukan Menak Sembuyu?
Seketika Menak Sembuyu menyembah Prabu Suhita yang masih keponakan tirinya itu. Ia mengutarakan maksud kedatangannya adalah memohon maaf atas segala kerusuhan yang terjadi belakangan ini. Keinginan Menak Jingga yang ingin menguasai Majapahit secara buruk tidak disetujui Menak Sembuyu. Dihadapan Dewi Suhita patih Blambangan itu mengutarakan niat baiknya ingin memperbaiki citra Blambangan dan membangun kembali hubungan antara timur dan barat. Ia juga memohon kepala Menak Jingga dapat dikembalikan padanya agar dapat dimakamkan secara layak bersama dengan tubuhnya yang tertinggal di Blambangan. Menak Sembuyu pun mengutarakan bahwa yang memenggal kepala kakaknya itu Damarwulan, bukan Layang Seta maupun Layang Kumintir.


Sang Prabu pun kembali menegaskan janjinya untuk segera mengangkat Damarwulan menjadi raja Majapahit dan pendamping resmi pemerintahannya. Sejak saat itu, secara resmi Damarwulan menjadi suami Dewi Suhita. Damarwulan manjadi raja Majapahit dengan gelar Prabu Sri Kertawijaya I atau Bhre Wijaya I atau lebih dikenal dengan sebutan Prabu Brawijaya I. Dengan izin Dewi Suhita, Dewi Anjasmara segera diangkat menjadi selir Damarwulan. Dewi Anasmara merasa bersyukur dan cukup puas dengan anugrah itu. Pengorbanan cinta Dewi Anjasmara yang begitu besar dan tulus demi kelestarian Majapahit telah mendapat balasan yang setimpal.

Materi Ujian Praktek Bahasa Indonesia th 2013/2014
Diambil dari Cerita Rakyat Jawa Timur, Damarwulan
Karangan Ade Soekirno SSP
Grasindo, 1994

0 other thoughts:

Posting Komentar

 

InstagramSlide

Twitter Updates

Meet The Author

:)